Sejarah perkeretaapian di Malang gak bisa dilepaskan dari rencana Belanda untuk membangun jalur KA rute Surabaya – Pasuruan – Malang yang dimulai tanggal 6 April 1875. Proyek ini dipimpin oleh David Marchalk, seorang anggota militer Belanda yang pernah jadi surveyor untuk pembangunan rel KA jalur Jakarta – Bogor.
Untuk tahap pertama, dibangun jalur dari Surabaya – Pasuruan via Porong. Sebagai stasiun awal, dibangunlah Spoorstation Semoet (sekarang Surabaya Kota) yang diresmikan oleh Gubernur Jenderal JW van Lasberge pada tanggal 16 Mei 1878. Di hari yang sama, diberangkatkan KA pertama dari Stasiun Semut menuju Porong, Sidoarjo. Dua hari kemudian, sang Gubernur meresmikan jalur KA Surabaya – Pasuruan, sebagai kelanjutan dari pembangunan jalur KA Surabaya – Porong.
Pada tahap kedua barulah dibangun rel KA jalur Pasuruan – Malang. Pembangunan ini terdiri dari 3 bagian, yaitu jalur Bangil – Sengon sejauh 21 kilometer, jalur Sengon – Lawang sejauh 10 km dan terakhir jalur Lawang – Malang sejauh 18 km. Peresmian jalur ini dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 1879. Kemudian pada kurun waktu 1897 – 1908, perkeretaapian di Malang berkembang dengan pembanguan dan operasional beberapa jalur KA di sekitar Malang dan Singosari.
Jalur Paling Terjal
Jalur Bangil – Lawang adalah jalur rel tanjakan paling terjal di wilayah Kabupaten Pasuruan (kini masuk wilayah Daop VIII Surabaya). Hal ini dikarenakan Stasiun Bangil terletak di ketinggian 9 meter DPL (di atas permukaan laut) sedangkan Stasiun Lawang terletak di ketinggian 484 meter (kini Stasiun tertinggi di wilayah Daop VIII Surabaya). Sehingga dalam jarak 31 km, KA naik setinggi 475 meter. Bila dihitung dalam permil (‰), tanjakan tersebut memiliki kemiringan 15,3‰ (naik/turun 15,3 meter setiap jarak horizontal 1.000 meter). Pada masa lok uap, KA yang lewat di jalur ini ditarik dengan lok jenis D52 atau F10 (menurut penuturan masinis Dipo Malang).
Di masa kini, semua KA yang melintasi jalur ini dari arah Surabaya menggunakan lok CC201, CC203 dan kadang CC204. Dengan lok jenis ini, bisa ditarik hingga 7 unit kereta. Malah untuk KA BBM Benteng (SB) – Malang Kotalama harus menggunakan double traction. Kalau lok yang tersedia tidak cukup, maka rangkaian KA BBM tersebut harus dibawa dalam 2-3 trip. Hanya KA Tawang Alun saja yang masih pakai BB 301 atau BB 304, bahkan pernah BB303. Itupun hanya mampu menarik 4 unit kereta ekonomi.
Untuk jalur Lawang – Malang sendiri, relnya menurun karena Stasiun Malang berada di ketinggian 444 meter DPL.
14 Trip KA Sehari
Pada masa itu, jalur KA Surabaya – Malang dipakai oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS), alias PT KA-nya Pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Dengan lokomotif uap, perjalanan dari Surabaya ke Malang waktu itu ditempuh selama 4 jam. Maklum saja, seperti yang sudah disebut di atas, jalur Bangil – Lawang sangat terjal sehingga membuat KA melaju pelan sekali alias nggremet.
Perjalanan KA ini dari Spoorstation Semoet melalui stasiun Gubeng, Wonokromo, Sidoarjo, Bangil, Sukorejo, Lawang, Blimbing dan Malang. Harga karcisnya bervariasi, untuk Kelas 1 (Eksekutif) 1,90 Gulden, Kelas 2 (Bisnis) 1,30 Gulden dan untuk Kelas 3 (Ekonomi) 0,64 Gulden.
Dibongkar Jepang
Masa penjajahan Jepang benar-benar membawa dampak yang parah terhadap perkeretaapian di Indonesia. Banyak jalur KA yang dibongkar oleh Jepang dan digunakan untuk membangun jalur KA di Manchuria. Untuk wilayah Malang Raya,yang menjadi korban adalah jalur Gondanglegi – Dampit (15 km), Gondanglegi – Kepanjen (17 km) dan Sedayu – Turen (1 km). Jalur ini dahulu dioperasikan oleh MSM (Malang Stoomtram Maatschappij).
Untung saja Jepang menjajah negeri kita hanya 3,5 tahun. Entah apa jadinya jika Jepang menjajah lebih lama. Setelah kemerdekaan dan AMKA (Angkatan Moeda Kereta Api) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian Indonesia dari tangan Jepang, jalur-jalur tersebut dibangun kembali dan dioperasikan oleh DKARI (Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia). Namun kini jalur tersebut, bersama dengan jalur Blimbing – Bugis (Lanud Abdurrahman Saleh) – Tumpang, sudah ditutup sejak pertengahan tahun 80-an. Mau tahu lebih tentang jalur KA ini? Tanya saja ke Masinis-masinis senior di Dipo Malang.
Bangunan Lama & Baru
Pada awalnya, bangunan Stasiun Malang berada di sisi timur stasiun yang sekarang. Dengan rancangan seperti ini, penumpang yang baru turun dari KA akan disajikan pemadangan indah di sebelah barat, yaitu jajaran Pegunungan Panderman. Karena bangunan stasiun ini dirasa tidak mampu lagi menampung jumlah penumpang yang terus meningkat, maka dibuatlah bangunan baru yang lebih besar di sisi barat emplasemen (di seberang bangunan stasiun semula). Bangunan baru ini terus dipakai hingga sekarang dan bangunan lama, yang kini bersebelahan dengan Dipo Kereta & Lok Malang, difungsikan untuk kantor dan gudang untuk menyimpan alat-alat perawatan jalur KA.
Saat ini, lokasi Stasiun Malang sangat strategis karena terletak sangat dekat dengan Alun-Alun Bunder, Kompleks SMA Tugu (SMAN 1, 3 dan 4), Gedung DPRD, Balai Kota Malang, Pasar Klojen, Hotel Tugu Inn dan Markas Kodam 5 Brawijaya.Sebagian besar bangunan tersebut (kecuali Gedung DPRD) sudah ada sejak jaman Belanda. Namapaknya Belanda sudah memperhitungkan ke-strategis-an wilayah ini untuk kepentingan politis dan militer. (itok)
DAFTAR PUSTAKA
-
Majalah KA, Juli & Agustus (2007) & Maret 2008
-
Peletakan Stasiun Kereta Api Dalam Tata Ruang Kota-Kota di Jawa (Khususnya Jawa Timur) Pada Masa Koloial. Ditulis oleh Hadinoto dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur Vol.27, No.2, Desember 1999.